*Mengapa Jugun Ianfu diciptakan?
- Melakukan invansi ke negara lain yang mengakibatkan peperangan membuat
kelelahan mental tentara Jepang. Kondisi ini mengakibatkan tentara
Jepang melakukan pelampiasan seksual secara brutal dengan cara melakukan
perkosaan masal yang mengakibatkan mewabahnya penyakit kelamin yang
menjangkiti tentara Jepang. Hal ini tentunya melemahkan kekuatan
angkatan perang kekaisaran Jepang. Situasi ini memunculkan gagasan untuk
merekrut perempuan-perempuan lokal , menyeleksi kesehatan dan memasukan
mereka ke dalam Ianjo-Ianjo sebagai rumah bordil militer Jepang.
*Bagaimana mereka direkrut?
- Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis,
pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah
makan dan juga dengan cara kasar dengan menteror disertai tindak
kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga.
*Siapa yang merekrut mereka?
- Militer Jepang, sipil Jepang, pejabat lokal sepeti bupati, camat, lurah dan RT
* Dari mana asal Jugun Ianfu?
- Mereka berasal dari Korea Selatan, Korea Utara, Cina, Filipina,
Taiwan, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia. Sebagian kecil di
antaranya dari Belanda dan Jepang sendiri. Mereka dibawa ke wilayah
medan pertempuran untuk melayani kebutuhan seksual sipil dan militer
Jepang baik di garis depan pertempuran maupun di wilayah garis belakang
pertempuran.
*Siapakah Jugun Ianfu Indonesia?
- Sebagian besar perempuan-perempuan yang berasal dari pulau Jawa yang
dijadikan Jugun Ianfu seperti Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri
Sukanti, hanyalah sebagian kecil Jugun Ianfu Indonesia yang bisa
diidentifikasi. Masih banyak Jugun Ianfu Indonesia yang hidup maupun
sudah meninggal dunia yang belum terlacak keberadaannya.
*Bagaimana mereka diperlakukan?
- Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani
kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan
malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila
hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau
disiksa sampai mati.
*Kapan dan dimana ?
- Ianjo pertama di dunia dibangun di Shanghai, Cina tahun 1932.
Pembangunan Ianjo di Cina dijadikan model untuk pembangunan Ianjo-Ianjo
di seluruh kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia sejak pendudukan
Jepang tahun 1942-1945 telah dibangun Ianjo diberbagai wilayah seperti
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara, Sumatra, Papua.
*Apa yang terjadi setelah perang?
- Setelah perang Asia Pasifik usai Jugun Ianfu yang masih hidup didera
perasaan malu untuk pulang ke kampung halaman. Mereka memilih hidup
ditempat lain dan mengunci masa lalu yang kelam dengan berdiam dan
mengucilkan diri. Hidup dalam kemiskinan ekonomi dan disingkirkan
masyarakat. Mengalami penderitaan fisik, menanggung rasa malu dan
perasaan tak berharga hingga akhir hidupnya.
*Siapa yang bertanggungjawab atas sistem perbudakan terencana ini?
- Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini
diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah
para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.
*Bagaimana sikap pemerintah Jepang masa kini?
- Pemerintah Jepang masa kini
tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa
perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan
dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Jugun Ianfu.
Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah
menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara
Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang
memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada
Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang
kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam
praktek sistem perbudakan seksual.
*Bagaimana sikap politik pemerintah Indonesia?
- Pemerintah Indonesia menganggap
masalah Jugun Ianfu sudah selesai, bahkan mempererat hubungan bilateral
dan ekonomi dengan Jepang paska perang Asia Pasifik. Namun
hingga kini banyak organisasi non pemerintah terus memperjuangkan nasib
Jugun Ianfu dan terus melakukan melobi ke tingkat internasional untuk
menekan pemerintah Jepang agar menyelesaikan kasus perbudakan seksual
ini. Kemudian upaya penelitian masih terus dilakukan untuk memperjelas
sejarah buram Jugun Ianfu Indonesia,berpacu dengan waktu karena para
korban yang sudah lanjut usia.
*Bagaimana sikap masyarakat Indonesia?
- Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari
pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar kecelakaan
perang dengan memakai istilah ransum Jepang. Mencap para korban
sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang
berkedok membela kepentingan Jugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek
kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan
yang seharusnya diterima langsung para korban.
*Apakah AWF?
- Juli 1995 Asian Womens Fund (AWF) didirikan oleh organisasi swasta
Jepang. Organisasi ini dituduh sebagai agen penyuap untuk meredam
protes masyarakat internasional dan tidak mewakili pemerintah Jepang
secara resmi. Di masa pemerintahan Soeharto Tahun 1997 Menteri Sosial
Inten Suweno menerima dana santunan bagi para korban sebesar 380 juta
yen yang diangsur selama 10 tahun. Namun banyak para korban menyatakan
tidak pernah menerima santunan tersebut.
*Apa yang dituntut para korban?
- 1. Pemerintah Jepang masa kini harus mengakui secara resmi dan meminta
maaf bahwa perbudakan seksual dilakukan secara sengaja oleh negara
Jepang selama perang Asia Pasifik 1931-1945.
2. Para korban diberi santunan sebagai korban perang untuk kehidupan yang sudah dihancurkan oleh militer Jepang.
3. Menuntut dimasukkannya sejarah gelap Jugun Ianfu ke dalam kurikulum
sekolah di Jepang agar generasi muda Jepang mengetahui kebenaran sejarah
Jepang.
* Bagaimana sikap masyarakat internasional?
- Tahun 1992, untuk pertama kalinya Kim Hak Soon korban asal Korea
Selatan membuka suara atas kekejaman militer Jepang terhadap dirinya ke
publik. Setelah itu masalah Jugun Ianfu terbongkar dan satu persatu
korban dari berbagai negara angkat suara. Kemudian tahun 2000 telah
digelar Tribunal Tokyo yang menuntut pertanggung jawaban Kaisar Hirohito
dan pihak militer Jepang atas praktek perbudakan seksual selama perang
Asia Pasifik. Tahun 2001 final keputusan dikeluarkan di Tribunal The
Haque. Setelah itu tekanan internasional terhadap pemerintah Jepang
terus Dilakukan. Oktober 2007 kongres Amerika Serikat mengeluarkan
resolusi tidak mengikat yang menekan pemerintah Jepang memenuhi tanggung
jawab politik atas masalah ini . Meski demikian pemerintah Jepang
sampai hari ini belum mengakui apa yang telah diperbuat terhadap ratusan
ribu perempuan di Asia dan Belanda pada masa perang Asia Pasifik.